DWT Logo

Writing · Essay · MEMAHAMI ITU TERLAMBAT, MEMBERI ITU TERLALU CEPAT

MEMAHAMI ITU TERLAMBAT, MEMBERI ITU TERLALU CEPAT

MEMAHAMI ITU TERLAMBAT, MEMBERI ITU TERLALU CEPAT

Ini menyoal satu hal penting

memahami dan dipahami 


Ada yang terasa dekat,

lalu kita bilang, “saya paham.”

Ada yang terasa jauh,

lalu kita bilang, “ini sulit.”


Saya sering merasa,

yang kita sebut sulit itu

barangkali belum menemukan jalannya.


Ijin saya luaskan sedikit,

persoalannya bukan lagi 

memahami atau dipahami.

Bisa jadi: memberi atau menerima.


Mari lihat alam.

Matahari tidak pernah bertanya:

 “kamu sudah siap menerima cahaya saya?”

Udara tidak pernah menunggu:

 “kamu mengerti cara bernapas?”


Mereka memberi.

Bukan karena diminta.

Bukan karena dipahami.

Tapi karena di situlah keseimbangannya.


Manusia tidak sederhana

Saya ingin dipahami,

sebelum mau memahami.

Saya ingin diberi,

sebelum siap menerima.

Saya mendengar,

tetapi tidak menyeberang.

Saya berbicara,

Tapi mungkin belum sepenuhnya membangun jembatan.


Maka belajar sering terasa ganjil.

Yang satu merasa sudah memberi.

Yang lain merasa belum menerima.

Yang satu merasa sudah jelas.

Yang lain masih mencari arah.


Dan keduanya benar

di dunianya masing-masing.


Di sini mungkin letaknya.

Belajar bukan soal siapa benar.

Tetapi siapa mau bergerak.


Memberi bukan sekadar bercerita.

Menerima bukan sekadar mendengar.


Memberi itu menurunkan diri,

agar orang lain punya pijakan.

Menerima itu menaikkan diri,

agar bisa sampai.


Kalau tidak, kita hanya saling lewat.

Bukan tidak belajar.

Tapi belum benar-benar bertemu.


Alam memberi tanpa menunggu dipahami.

Manusia tidak seperti itu.


Mungkin pertanyaannya bukan:

 “apakah saya sudah paham?”

Tetapi:

 “apakah saya sedang mendekat, 

atau hanya menunggu didekati?”


atau mungkin, 

saya sendiri pun masih belajar menjawabnya…


Tanggal Rilis

1 Mei 2026