DWT Logo

Writing · Essay · KALIBRASI?

Kalibrasi?

Kalibrasi?

Pagi tadi, kami duduk bersama di board of design kantor.
Tiga arsitek senior, satu lagi saya… lebih banyak sebagai pengamat duduk manis.

Satu proyek-baru, digelar, dipaparkan.
Gambar rapi. Logikanya masuk.

Lalu komentar mulai muncul menyembul.

Ada yang bicara komposisi,… proporsi, ritme, keseimbangan.
Ada yang langsung masuk ke pengalaman ruang,… terasa sempit, atau justru terlalu terbuka.
Yang paling senior bicara makna,… apa yang sebenarnya ingin disampaikan.

Menariknya, semuanya benar.
Semua punya alasan.
Tidak ada yang keliru.

Tapi entah kenapa, percakapannya tidak benar-benar bertemu.
Seperti berjalan sejajar,… dekat, tapi tidak bersentuhan.

Di situ saya banyak diam taat, menyimak .

Jangan-jangan bukan karena berbeda pendapat.
Tapi karena tidak sedang melihat perihal yang sama.

Saya terbiasa teliti pada alat.
Mistar saya pastikan 90 derajat.
Layar saya jaga agar warna tidak meleset.
Bahkan printer 3D di kantorpun rutin saya kalibrasi supaya hasilnya presisi.

Tapi cara kami melihat,…
hampir tidak pernah disentuh.

Dalam membaca arsitektur, kami sering merasa sudah tepat.
Karena masuk akal. Karena terlihat benar.

Tapi tepat menurut apa?

Bisa jadi yang satu masih menunjuk apa yang tampak,… materialnya,
sementara yang lain sudah membaca relasinya,… formanya.

Perbedaannya kecil.
Tapi cukup untuk membuat percakapan tidak pernah benar-benar bertemu.

Mungkin ini terdengar seperti permainan istilah.
Tapi di praktik, ini yang sering terjadi.
Dan barangkali, di wilayah teoretik pun,
kita tidak selalu benar-benar bertemu.

Di situ saya mulai berpikir…
jangan-jangan yang perlu dikalibrasi bukan alatnya,
tapi cara kami melihat sebelum memberi penilaian.

Bukan untuk menyamakan pendapat.
Tapi supaya muncul satu kesadaran sederhana:
Kami sedang melihat yang sama, atau tidak.

Pernah mengalami momen seperti ini?


Tanggal Rilis

22 April 2026