DWT Logo

Writing · Essay · EINSTEIN, AI, ARSITEKTUR

EINSTEIN, AI, ARSITEKTUR

EINSTEIN, AI, ARSITEKTUR

Semalem saya ngobrol sama Cathy, Claudia, Netty. 

Itu nama AI saya (chat-gpt, cloud, noteLm). 

Lalu saya bikin tulisan ini buat mereka…

EINSTEIN, AI, ARSITEKTUR


Dulu saya seringnya sibuk ngumpulin artikel jurnal.

Apalagi kalau masuk kategori JIB.

Saya pikir di situlah penelitian terjadi.

Belakangan saya sadar:

literatur itu cuman peta doangan, bukan realitas.


Einstein tuh nggak mbaca ribuan artikel seperti sekarang. 

Doi cuman mbaca beberapa buku karya penelitian penting.

Tapi doi mbaca realitas dengan sangat cermat dan tajam.

Dari sana lahir teori relativitas.


Sekarang saya punya AI.

AI bisa mbaca jutaan teks dalam hitungan detik. 

Bahkan bisa saya suruh nulis artikel jurnal.

Tapi AI kan nggak pernah ngalamin realitas.


AI nggak pernah jalan-jalan di ruang sempit yang becek, kumuh.

Nggak pernah juga ngerasain panas, sesak, gelap, terang.

AI kan jagoannya cuman memadukan teks tentang realitas.

Karena itu saya sih selalu ngingetin diri saya.

Terus2an.


Artikel jurnal bukan penelitian.

Artikel jurnal hanyalah bukti klaim atas hasil penelitian.

Penelitian yang sebenarnya terjadi 

ketika kita mbaca fenomena nyata secara langsung.


Dalam arsitektur ini jelas banget-banget.

Arsitektur bukan sekadar teks.

Arsitektur merupakan ruang yang dialami tubuh manusia.



AI bisa nulis artikel jurnal. 

Arsitek harus membaca ruang.


Kalau penelitian hanya mbaca literatur,

pastinya AI yang bakalan jadi peneliti terbaik di dunia. 

Ini, beneran lah.


Masalahnya:

AI tuh seringnya halu banget, 

dia kan nggak pernah mengalami ruang.


Jadi lagi-lagi saya ngingetin diri sendiri.

jangan cuma mbaca literatur sebanyak-banyaknya.

Bacalah fenomena nyata sebanyak-banyaknya.


Lalu baru

posisiin deh ke dalam peta literatur.

Dari sono baru keluar Novelty



Tanggal Rilis

7 Maret 2026