Bahasa Menyamar Jadi Arsitektur
Kalimat ini mungkin gak nyaman dibacanya.
Tetapi saya pengen jujur pada disiplin saya sendiri.
Hari ini semakin banyak kajian arsitektur berbicara tentang simbol, narasi, identitas, diskursus, representasi.
Bangunan tuh, diperlakukan sebagai teks.
Fasad dibaca seperti paragraf.
Atap ditafsirkan seperti metafora.
Pelan-pelan, tanpa saya sadari,
bahasa menyamar jadi arsitektur.
Seperti serigala menyamar jadi nenek tua berkerudung
Pertanyaan saya sama diri saya sensiri, sih sederhana:
Sejak kapan sih, ruang
berhenti menjadi konfigurasi fisik–spasial
yang dihuni tubuh, dan ujug-ujug berubah menjadi sistem tanda?
Bahasa kan merupakan sistem representasi.
Arsitektur (menurut saya lho)
ialah konfigurasi ruang yang diuji oleh tubuh.
Tubuh gak tinggal di simbol.
Susah banget.
Tubuh gak bisa berlindung di narasi.
Tubuh gak pernah beristirahat di diskursus.
Tubuh itu tinggalnya di ruang
yang telindung dari gangguan
kejamnya alam dan ganasnya mahluk pengganggu
(termasuk mahluk halus juga kali ya?)
Btw, saya bisa banget menulis
puluhan halaman tentang makna Mesjid misalnya.
Tetapi jika orientasi saf dalam Mesjid gak stabil,
itu bukan masjid yang baik.
Saya bisa menyebut pendopo
sebagai simbol keterbukaan budaya Jawa yang aduhai,
tapi jika rasio pelingkup dan ventilasinya gak pernah diuji,
itu jadinya bukan analisis arsitektur.
Menurut saya itu jadinya
studi budaya tentang bangunan.
Masalahnya bukan semiotika.
Masalahnya ialah
ketika simbol menggantikan uji ruang.
Makna-dasar arsitektur
bukanlah makna simbolik.
Makna dasar lahir dari stabilitas relasi tubuh–ruang:
orientasi
pelingkup
kenyamanan minimum
keteraturan gerak
Jika analisis berhenti pada teks,
objek formal arsitekturnya telah bergeser.
(lagi-lagi kata saya, dan….)
Saya mungkin sedang meneliti budaya,
komunikasi visual, atau ideologi.
Semuanya sah dan terhormat banget banget.
Tetapi saya gak pernah berani
nyebut itu inti arsitektur.
Arsitektur gak pernah dimulai dari makna.
(walaupun bidang keahlian saya makna)
Arsitektur itu dimulai dari tubuh.
Dan tubuh gak akan pernah
bisa berhuni dalam metafora,
apalagi dalam bahasa
Lalu, apakah bahasa tidak penting?
Justru penting bangetlah.
Tanpa bahasa, saya nggak bakalan bisa:
- menjelaskan konfigurasi ruang,
- mentransmisikan pengetahuan,
- menguji argumen,
- membedakan makna dasar dan makna tambahan.
Bahasa membantu saya berpikir tentang arsitektur.
Bahasa memperjelas relasi ruang.
Bahasa memungkinkan terjadinyarefleksi.
Tetapi bahasa itu kan alat klarifikasi. Jadi bahasa bukan objek formal.
Bahasa memang menjelaskan ruang. Tapi, bahasa nggak pernah banget menggantikan ruang.
Nah, ketika bahasa dipakai
untuk memperjelas konfigurasi fisik–spasial,
bahasa bisa jadi sah dan mulia.
Tapi ketika bahasa berdiri sendiri
dan ruangnya menghilang,
saya nih tidak lagi sedang berarsitektur.
Saya lagi nulis tentang sesuatu yang lain.
Arsitektur memang sih, bisa dibaca.
Tetapi kan nggak pernah dibangun untuk dibaca.
Arsitektur dibangun buat dihuni,
bukan buat bacaan
apalagi buat pajangan keren2an
Dan sebelum saya kelewat jauh menafsirkan,
mungkin ada satu pertanyaan sederhana
yang perlu saya ajukan pada diri sendiri:
Kalau saya sendiri nih,
harus tinggal di sebuah desain yang
metafori, ikonik, nyegik itu,
selama katakanlah enam bulan
(jadi bukan cuman menggunakan
tapi mengalami dalam kurun waktu tertentu),
apakah saya masih mau atau tidak tinggal di situ?
Jika jawaban saya ragu,
mungkin yang bekerja dominan
di bangunan itu bukan ruangnya,
tapi bahasanya.
Tanggal Rilis
20 Februari 2026
