DWT Logo

Writing · Essay · ARSITEKTUR YANG MISKIN EPISTEMIK

Arsitektur Yang Miskin Epistemik

Arsitektur Yang Miskin Epistemik

Alkisah, dulu kala saya belajar merancang bertahun-tahun secara pragmatik dibangku kuliah.

Pokoknya, merancang itu yang paling penting, tanpa peduli apa sejatinya ilmu arsitektur itu.

Eh… ternyata puluhan tahun kemudian, sekarang, kejadiannya sama jugalah…

Ketika ngajar mahasiswa merancang, saya juga nggak pernah tuh memastikan bahwa mereka

memahami apa sebenarnya ilmu arsitektur itu.

Akibatnya sih sederhana. Tapi rasanya fatal. Mahasiswa bisa nggambar, piawai main bentuk,

ciamik bikin fasad “viral”, namun nggak tahu blas, apa objek keilmuan arsitektur, gimana

pengetahuan arsitektur dibangun, dan buat apa arsitektur hadir.

Sampai titik ini, saya mulai bertanya dan ragu pada diri sendiri:

Bener nggak sih pendidikan arsitektur cukup dengan studio, main-main bentuk, ngejer estetika

yang viral?

Jangan jangan saya sedang memproduksi generasi “arsitek instan” yang pintar banget bikin

bentuk yang wah, mencong sana sini, nyegik sana sini, tapi miskin banget-banget sama

epistemik?

Kenapa sih banyak arsitek nganggep ontologi–epistemologi–aksiologi itu obrolan “tingkat

dewa”?

Salah nggak sih itu? Menurut saya ini sih sangat sederhana: Sejak dulu saya (atau kita boleh juga

deh) nggak pernah diajarkan binatang: onto-epistem-metod-axio ini secara sistematis.

Selama puluhan tahun, pendidikan arsitektur di Indonesia yang saya tahu (tentu saya bisa salah)

intinya selalu:

* studio craft

* intuisi

* estetika

* trial and error

* gaya pribadi

langka banget pengajaran masuk ke-kerangka keilmuan yang rigid dan argumentatif.

Jadi pas, muncul istilah ontologi atau epistemologi dalam obrolan, reaksi yang spontan ialah:

“Itu terlalu filosofis.”

“Itu tidak praktis untuk desain.”

“Itu pembahasan level S3., bahkan itu bahasa dewa (dewa mana ya? yunani)

Padahal justru inilah dasar dari mengapa kita merancang, bukan sekadar bagaimana merancang.

Tanpa fondasi epistemik, studio desain hanya menjadi pabrik bentuk;

- tanpa aksiologi, desain hanyalah dekorasi;

- ⁠tanpa ontologi, mahasiswa nggak pernah tahu apa yang mereka telaah.

Ini kali, penyebab banyak mahasiswa lebih percaya Pinterest daripada buku teori.

Lebih milih AI, bahkan percaya banget sama AI, padahal AI sering banget halu.

Ini mungkin karena saya tidak pernah membekali mereka alat untuk berpikir ilmiah sejak awal.

[Lagi-lagi salah saya]

Perlukah filsafat ilmu diajarkan di prodi S1 arsitektur?

Jawabannya: bukan hanya perlu, wajib hukumnya.

Arsitektur merupakan disiplin yang berurusan dengan ruang berhuni, dengan makna, dengan

orientasi, dengan pengalaman, dan dengan tanggung jawab sosial.

Kebayang nggak, gimana mungkin mahasiswa paham itu semua kalau mereka nggak pernah tahu

atau belajar:

ontologi — apa yang sebenarnya kita kaji

epistemologi — bagaimana kita tahu dan membenarkan pengetahuan arsitektur

aksiologi — untuk apa arsitektur dibuat, nilai apa yang diperjuangkan

Tanpa ini, yang tersisa hanya “studio produksi gambar.”

Di era AI, ketika mesin bisa menghasilkan sketsa, moodboard, bahkan denah dalam hitungan

detik, keunggulan manusia kan justru pada kemampuan epistemik, bukan teknis.

Dan ironisnya, justru itu yang tidak saya ajarkan.

Kalau nih…Kalau pendidikan arsitektur ingin tetap relevan di era AI dan kompleksitas sosial

hari ini, saya nggak lagi bisa terus-terusan ngandelin lagi studio sebagai :

- “rahim segala ilmu”, sebagai

- ⁠corenya-core dalam arsitektur.

Studio memang penting banget, tetapi:

- studio tanpa epistemologi sama aja dengan lokakarya seni kacangan doang.

- ⁠Studio tanpa ontologi sama juga ruang latihan gaya2an, latihan keren2an style.

- ⁠Studio tanpa aksiologi ini sih, industri bentuk kosong.

Saatnya pendidikan arsitektur berdiri tegak sebagai ilmu, bukan hanya melulu keterampilan

teknis. Bukan hanya tinggal pakai software modelling semua beres.

Mungkin ini sebabnya langka banget arsitek Indonesia yang bikin teori, konsep, metode. Padahal

di sekolah doktor arsitektur, novelty katanya penting banget. Lah… kepriben?

Sekali lagi, kalau ilmu arsitektur mau berdiri tegak, bisa jadi mungkin, kalau filsafat ilmu

menjadi pintu masuk sejak tahun pertama.


Tanggal Rilis

21 November 2025