Arsitektur yang Lupa Tubuh
Sekarang musim hujan.
Air datang dari segala arah.
Terpental angin.
Masuk ke sela-sela.
Jendela harus ditutup.
Di teras tadi siang,
saya tetap kehujanan.
Beberapa bulan lagi,
matahari datang tanpa ampun.
Menyilaukan jendela.
Menyengat teras.
Pertanyaannya sederhana:
apakah tubuh saya,
di teras, di jendela, perlu pelindung?
Perlu tudung hujan?
Perlu tudung silau matahari?
Jawabannya terlalu jelas.
Anehnya, dalam arsitektur,
entah saya,
entah “starchitect” Indonesia
sering melupakan.
Entah sengaja.
Entah pura-pura lupa.
Banyak bangunan hari ini:
bukaan besar, kaca lebar, fasad bersih.
Tapi tanpa pelindung.
Tidak ada overstek.
Tidak ada ambang.
Tidak ada tudung.
Tidak ada ruang antara.
Akibatnya?
Hujan langsung menghajar.
Panas langsung menembus.
Silau masuk tanpa filter.
Lalu kita tambal-sulam:
tirai tebal.
AC lebih dingin.
kaca film.
Padahal masalahnya bukan di “tambalan”
Masalahnya ada di cara berpikir awalnya.
Arsitektur,
kalau kita jujur,
dimulai dari satu hal:
melindungi tubuh.
Dari hujan.
Dari panas.
Dari silau.
Kalau ini tidak terjadi,
maka semua bentuk indah di luar itu…
perlu dipertanyakan.
Hari ini kita melihat tren:
bangunan tampak menarik di gambar.
bersih, tipis, minimal, pinterestable.
Tapi ketika dihuni?
tidak nyaman.
tidak teduh.
tidak tahan hujan.
Lalu saya bertanya:
ini gagal ?
atau hanya dianggap hal sepele?
sekadar sepele bukan hal prioritas?
Kalau tubuh tetap basah,
kalau mata tetap silau,
kalau ruang tidak bisa dipakai dengan nyaman
ini bukan hal sepele.
Ini berarti:
relasi dasar antara tubuh dan ruang tidak bekerja.
Dan kalau relasi dasar itu gagal,
maka ini bukan lagi soal gaya.
Bukan soal bentuk.
Bukan soal pinterestable.
Kita sering mengutip Mies van Der Rohe:
Katanya
“God is in the details.”
Tapi mungkin kita perlu jujur bertanya:
kalau hal paling dasar melindungi tubuh,
saja diabaikan…
kita tidak kekurangan desain.
kita kekurangan arsitektur.
Arsitektur yang ingat tubuh
Tanggal Rilis
8 April 2026
